Selasa, 04 Februari 2014

Sedikit tentang Rokok

Di suatu pagi,tepat di depan sebuah SMP Negeri di Kota Malang.Aku mengawali pagi dengan sepasang pisang goreng hangat dan secangkir Cappucino panas.Udara dingin Malang di pagi itu memang sangat pas bila di buka dengan makanan dan minuman tersebut.Belum habis gigitan di pisang goreng terakhir datanglah sekelompok anak SMP,Duduk dan mengambil beberapa gorengan di warung tersebut.Beberapa diantara mereka memesan kopi dan meminta rokok.Bocah-bocah berumur 15 tahunan dengan asyiknya berbicara dengan kawan-kawannya sambil menghisap rokok.Seperti seorang profesional memainkan asap rokok yang keluar dari mulut-mulut mereka dan batangan rokok yang berada di tangan dengan lihai berputar-putar diantara jari telunjuk dan tengah.Sungguh sangat profesional.


Ditengah dentuman suara bel kereta ekonomi yang membelah jalanan dalam perjalanan Malang-Surabaya,
aku duduk di kursi dengan formasi berhadapan 2-2 di kereta yang menghubungkan kedua Kota besar di Jawa Timur tersebut.Aku duduk di pinggir dekat jendela,di sebelahku seorang ibu-ibu berusia sekitar 40 tahunan.Di kursi depan duduk seorang bapak dengan memangku anaknya yang masih berusia 4-5 tahunan dan seorang pemuda yang dari penampilannya seperti seorang mahasiswa.Baru saja kereta melewati Stasiun Lawang si pemuda mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kemeja yang digunakan.Di ambilnya sebatang rokok sembari menawariku dan bapak yang duduk di sebelahnya.Aku cuma tersenyum sambil mengucapkan terima kasih tanda penolakan dan si bapak ternyata mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.Seperti tanpa dosa si bapak merokok di depan anak yang dari tadi di pangkunya.

Di Negeri ini,rokok adalah salah satu komoditas yang sangat mudah di temukan,bahkan paling mudah di temukan.Tidak pernah ada sejarahnya di Indonesia terjadi kelangkaan rokok.Bahkan rokok masuk dalam komoditas yang mempengaruhi naik turunnya tingkat Inflasi.Di Indonesia orang yang merokok ada dimana-mana,mulai dari warung kopi sampai di basement sebuah kampus ternama pun bisa dengan gampang kita menemui orang yang merokok.Industri rokok di Indonesia sangat maju dan berkembang pesat,Industri rokok memang telah berhasil menjaring jutaan pekerja mulai dari petani tembakau,pekerja pabrik sampai pedagang rokok eceran.


Selama kuliah ini,banyak teman yang perokok.Menghabiskan berbatang-batang rokok dalam satu hari.terkadang mereka lebih memilih puasa makan daripada puasa merokok.Selesai makan,merokok adalah agenda wajib.Tidak pernah tertukar kalau sehabis merokok langsung makan,tidak pernah.

Selama beberapa hari ini,entah gagasan dari mana.Saya kepikiran untuk menjalani kehidupan layaknya seorang perokok.Bukan dengan merokok atau menjadikan rokok sebagai  "menu penutup" makan,tetapi menjalani hari-hari dengan menyisihkan rupiah untuk "membeli" rokok.Jadi dalam tiap hari harus mengeluarkan uang ekstra untuk membeli rokok,layaknya seorang perokok.Hitung-hitung ini adalah salah satu kampanye anti rokok karena terkadang perokok suka ngeyel kalau di berikan informasi bahwa rupiah yang mereka bakar untuk asap yang justru menjadi racun dalam tubuh mereka di kumpulkan akan sangat banyak jika di tabung,cara menjawab paling klasik dari perokok adalah dengan membalikkan pernyataan kita menjadi pertanyaan.
Ilustrasinya seperti ini 
A (seorang supir angkot,perokok berat)
B (PNS,bukan perokok)

Pak B yang baru pulang kantor naik di angkot yang di supiri pak A.Dalam perjalanan Pak A menyalak rokoknya sehingga terjadilah sebuah percakapan ringan.

B : Sudah lama merokok pak ?

A : Hampir 25 tahun pak,bapak merokok juga ?

B : saya tidak merokok pak,tapi tahukah bapak kalau selam 20 tahun bapak merokok sudah menghabiskan berapa uang ?

A : wah,boro-boro ngitung pak,ngejar setoran terus..

B : Loh,ini bukan angkor bapak ?

A : bukanlah pak,ini punya juragan.Saya cuma jadi supir doang.

B : Jika misalkan bapak sehari menghabiskan satu bungkus rokok yang harganya 10.000 maka dalam satu bulan bapak menghabiskan uang 300.000 untuk uang rokok.dalam satu tahun bapak menghabiskan 3.600.000.Karena bapak sudah merokok selama 20 tahun maka bapak sudah menghabiskan uang 72.000.000.Uang tersebut bisa buat membeli angkot sendiri pak.

A : hmm,kalau begitu,bapak kan bukan perokok,jadi seharusnya bapak sudah punya mobil sendiri dong,nggak perlu naik angkot kayak gini.

Model cerita diatas memang biasanya jadi andalan para perokok,merokok atau tidak memang tidak selamanya berbeda,Tetapi dengan tidak merokok kita telah berhemat jauh lebih besar,kita berhemat untuk masa depan.Jika nanti kita sakit karena rokok,berapa uang yang akan di keluarkan untuk pengobatan.Sakit di negeri ini mahal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar