Minggu, 24 Februari 2019

Cerita sosmed saya

Main sosmed itu buat saya seperti sebuah kebutuhan, walapun kadang pengen banget jadi anak yang anti sosial. Cumaa susah, sosmed udah mendarah daging. Dari jaman friendster dahulu kala, kalau main harus ke warnet sampai sekarang bangun tidur liat story orang.

Ngerasa nggak sosmed tuh mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kalau dihitung hitung beberapa tahun lalu, sosmed buat saya itu lebih banyak negatifnya di banding positifnya. Seriuuus.
Tiap perkembangan teknologi pasti punya positif dan negatif. Kembali lagi itu untuk prnggunanya lagi sih

Saya sampai akhirnya mulai lebih "memositifkan" sosmed.
Dulu follow akun gosip, yang lambe lambe karena waktu itu lagi ngehits banget. Sebenarnya follow akun kayak gitu biat update, update sih cuma yang di update kan gosip, hal yang belum tentu kebenarannya. Tambah komentar komentar nitijen, beeeuh. Dosaaa menumpuk.
Kepoin akun gosip kayak gitu tuh nggak ada habisnya, beneran. Pasti penasaran teruus.

Sampai akhirnya unfollow, dan setelah unfollow yang terjadi adalah hidup terasa lebih baik, waktu digunakan jadi lebih bermanfaat. Seperti rada plong aja menjalani hari hari. Seriuuusaan. Buat yang belum cobain deh.

Unfollow akun akun negatif dari sosmed kita, akun teman jugaa kalau dirasa yang diposting keseringan unfaedah, unfollow aja. Toh juga di dunia nyata masih temenan.

Musim politik kayak gini juga saya banyak unfollow akun akun dari sosmed yang terlalu gencar dan aktif banget berkampanye. Kampanye yang lebih suka menjatuhkan lawan dibandingkan menaikkan calon yang didukung, yang lebih share aib lawan dibanding prestasi yang didukung. Bodooo amat itu teman dekat atau apa. Yang kuingin hanya hidup yang tenang.

Jumat, 08 Februari 2019

Depan toko buku

Percayalah, tulisan ini saya buat di depan sebuat toko buku besar di Yogyakarta. Tertarik karena ada promo (ngosongin gudang) buku beli 3 hanya 10 ribu, yass 3 buah buku sebanding dengan harga indomie telur + es tes di burjo burjo yang bertebaran di sudut sudut gang kawasan kampus Jogja. Seperti biasa, kalau ada promo seperti ini pasti untung untungan, kalau yang lagi promo ini sesuai dengan minat bacaan, maka beruntungkah kita, ambil sebanyak banyaknya masalah mau dibaca atau tidak bukan masalah, yang penting punya aja dulu. Oh iya, jadi sebuah kewajiban atau entah sudah membudaya pasti kalau ada promo kayak gini, pasti bentuk displaynya tidak pernah beraturan, selalu acak acakan. Wajar sih, pembelinya selalu gini

Datang -> Pilih pilih -> kalau cocok ambil, nggak cocok buang sembarangan -> pilih pilih (lagi) dan kembali ke awal.

Kalau 1 orang datang, pilih pilih 10 buku dan terambil 3 maka ada 7 buku yang dibuang sembarangan.

Maka silahkan menghitung berapa banyak buku yang terbuang sembarangan jika yang datang 107 orang dalam 3 jam.

Baiklah, Sambil ngeliatin orang milih buku -> baca bentar -> buang, Saya jadi kepikiran "Bagaimanakah perasaan penulis buku jika melihat bukunya di obral seperti ini ?"
Karena saya akui, menulis
itu bukan pekerjaan gampang, saya aja nulis blog ini ancur ancuran, apalagi nulis buku, pasti tak sedikit waktu dan tenaga yang dicurahkan untuk menerbitkan buku tersebut. Hmm

Tapi kalau nggak diskon seperti itu, apa daya orang orang seperti saya yang masih itung itungan dalam membeli buku, apalagi kalau bukunya masih tidak terlalu terkenal.
Maksudnya gini, Saya beberapa kali beli buku yang dari judul, sampul dan sinopsis yang benar benar wow, ditambah ditaruh di etalase depan toko (bukan di pojokan paling bawah) setelah beli (dengan harga normal buku loh, bukan diskon promo obral) dan membaca isinya, ternyata amat sangat mengecewakan, tak sesuai ekpektasi. Sejak itu saya menjadi selektif dalam membeli buku, biasanya nyari review dulu, kalau ada yang bilang bagus baru deh beli, kalau tak menemukan mending nggak beli.

Daaaan, buku promo murah bazar gede diskon sampe mampus kayak gini nih jadi solusinya, kadang suka menemukan buku yang menarik dengan harga gilaaa walapun tak jarang menemukan yang tak sesuai ekspektasi, tapi nggak ngerasa rugi rugi banget.

Kalau diskonan gini satu sisi, kasian sama penulisnya satu sisi lagi seneeeng banget dapat buku murah. Dasar manusia, senang tapi kok ngasiani orang.

Daaan ada yang menarik nih.

Ternyata bazar kayak gini itu bukan serbuan pencari buku murah saja, sepertinya ada pedagang buku yang juga berburu ternyata, tumpukan bukunya udah setinggi setengah meter, nggak cuma 1 tumpuk, ada
2 tumpuk buku dengan beberapa judul yang sama. Sungguh otak bisnih yang luar biasa. Patut dicontoh nih. Memanfaatkan diskon buku untuk stok toko. Nggak kepikiran deh kalau gini. Luar biasaaa.