Seperti menonton siaran ulang pertandingan sepakbola, Rasa deh-degannya berbeda. Ketika menonton pertandingan live kita tak pernah tau kapan akan terjadi gol, berapa skor pertandingan. Berbeda halnya ketika kita menonton siaran ulang, walaupun kita tidak menonton pertandingan live, minimal kita sudah tau skor akhir, siapa yang mencetak gol bahkan menit berapa gol tercipta. Seperti ada greget yang hilang. Tayangan televisi juga seperti itu, jarang banget program re-run mendapatkan share yang lebih tinggi dari tayangan pertama. Itu karena kita sudah tau, rasa penasaran sudah hilang dan yang ada malah kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.
Tadi, menemukan postingan di media sosial, ceritanya ada seorang yang pada tulis ini kita sebut Saya. Saya yang alumni sekolah menengah atas (yang katanya) terbaik di NTB sedang bernostalgia dengan masa SMA. Ada kebiasaan tak tertulis memang di SMA (yang katanya) terbaik di NTB tersebut, yaitu dimana ada waktu untuk para alumni datang ke sekolah. Selauin ulang tahun sekolah, pagelaran akbar "Masa Orientasi Siswa" menjadi wadah halal para alumni datang ke Sekolah. Saya yang pada waktu itu sudah menjadi alumni 5 tahun yang lalu datang dihari terakhir MOS. Sebenarnya MOS adalah nama acara yang kami, reuni dan nostalgia menjadi menu utama yang terhidang. Bertemu teman lama di tempat "bersejarah", setiap sudut sekolah seakan-akan membawa kita kembali ke masa lalu, semua cerita terkembang dilayar.
Acara promosi ekskul mengingatkan dari sana kita tumbuh, dasar pemikiran yang berkembang di bangku kuliah bibitnya dari sini. Sampai pada akhirnya tiba saatnya penjulukan. Ini yang paling ditunggu-tunggu. Semua tumpah ruah ke mendekati lapangan, Alumni yang mencari hiburan, kakak kelas yang penasaran siapa yang akan menjadi "korban" panitia MOS. Muncullah dari balik salah satu kelas segerombolan anak SMA baru yang akan mengerahkan semua kemampuan yang telah diajarkan senior. Dengan didampingi kakak-kakak senior baik hati tapi disatu sisi merekalah yang menjerumuskan para "siswa pilihan" untuk menjadi tontonan satu sekolah. Baris dilapangan, kemudian para keamanan masuk lapangan. Menyebar ke setiap sudut lapangan. Dengan wajah garang yang memandangi setiap korban "penjulukan". Satu per satu korban penjulukan memerankan tokoh yang diajarkan setelah itu rombongan keamanan mendatanginya, tatap mata tajam, suara lantang berteriak. Inilah drama yang paling ditunggu-tunggu.
Kembali ke alumni, Kita hanya berkomentar, " Keamanannya nggak seseram dulu, badannya kecil kecil, suaranya kurang keras, kok begini begitu", Jangankan alumni, para siswa penonton pun membandingkan dengan ketika mereka menjadi peserta MOS. Suara-suara sumbang yang menyatakan ini itu, termasuk dari saya sebenarnya kare re-run tadi. Walaupun dengan konsep yang berbeda, tim keamanan yang berbeda, saya sudah mengetahui garis besar alur cerita pentas di lapangan. Saya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi sehingga tidak bisa dibandingkan, Peserta MOS belum pernah mengalami hal seperti ini sehingga apa yang mereka rasakan pasti berbeda dengan saya yang telah melihat bahkan jadi pelaku. Pasti berbeda. Tiap angkatan pasti punya ceritanya sendiri.
Nggak Perlu kan pakai uji t buat membuktikannya. hehehe