Tentu di minggu sore dan malam kita sering melihat postingan di sosial media tentang "duh, besok senin atau besok sudah senin aja" yang biasanya dibarengi dengan emoticon sedih atau marah. Hampir setiap minggu di layar layar hanphone kita keluhan tentang hari libur yang akan berakhir menjadi sajian wajib yang harus ada ketika weekend akan berakhir.
Mengapa senin menjadi momok ?
Mengapa sangat berat menghadapi senin ?
Mengapa ?
Apa salah senin ?
Apa ?
Bahkan terkadang, Muncul status atau story tentang "I hate monday atau monday is MONster DAY".
Kalau senin punya sosmed, barangkali dia adalah hari yang sangat sedikit punya followers. Bayangkan saja postingan si senin ini adalah tentang kerjaan, meeting, target, laporan dan sebagainya. tentu dia akan iri dengan sabtu atau minggu yang postingannya adalah tentang liburan bersama keluarga menikmati panasnya pantai, berenang di kolan renang hotel berbintang atau tentang makan bersama keluarga di restoran mewah dengan menu kebarat baratan.
Menyalahkan hari senin sebagai pembuka hari kerja yang memutuskan hari libur di sabtu minggu tentu tak tepat kita lakukan. menyalahkan hari adalah tentang krkalahan kita terhadap rutinitas. kita tak mampu mengalahkan dunia kerja kita. Kita membenci senin karena kita takut senin kita akan membuat hari hari kita menjadi buruk. Karena sebenarnya kita membenci pekerjaan kita. kita sudah membenci rutinitas kita. Yang terjadi sebenernya ketika kita membenci senin adalah kita butuh waktu lebih untuk berlibur.