Minggu, 17 November 2019

Senin yang dibenci

Tentu di minggu sore dan malam kita sering melihat postingan di sosial media tentang "duh, besok senin atau besok sudah senin aja" yang biasanya dibarengi dengan emoticon sedih atau marah. Hampir setiap minggu di layar layar hanphone kita keluhan tentang hari libur yang akan berakhir menjadi sajian wajib yang harus ada ketika weekend akan berakhir.

Mengapa senin menjadi momok ?
Mengapa sangat berat menghadapi senin ?
Mengapa ?
Apa salah senin ?
Apa ?

Bahkan terkadang, Muncul status atau story tentang "I hate monday atau monday is MONster DAY".

Kalau senin punya sosmed, barangkali dia adalah hari yang sangat sedikit punya followers. Bayangkan saja postingan si senin ini adalah tentang kerjaan, meeting, target, laporan dan sebagainya. tentu dia akan iri dengan sabtu atau minggu yang postingannya adalah tentang liburan bersama keluarga menikmati panasnya pantai, berenang di kolan renang hotel berbintang atau tentang makan bersama keluarga di restoran mewah dengan menu kebarat baratan.

Menyalahkan hari senin sebagai pembuka hari kerja yang memutuskan hari libur di sabtu minggu tentu tak tepat kita lakukan. menyalahkan hari adalah tentang krkalahan kita terhadap rutinitas. kita tak mampu mengalahkan dunia kerja kita. Kita membenci senin karena kita takut senin kita akan membuat hari hari kita menjadi buruk. Karena sebenarnya kita membenci pekerjaan kita. kita sudah membenci rutinitas kita. Yang terjadi sebenernya ketika kita membenci senin adalah kita butuh waktu lebih untuk berlibur.

Minggu, 24 Februari 2019

Cerita sosmed saya

Main sosmed itu buat saya seperti sebuah kebutuhan, walapun kadang pengen banget jadi anak yang anti sosial. Cumaa susah, sosmed udah mendarah daging. Dari jaman friendster dahulu kala, kalau main harus ke warnet sampai sekarang bangun tidur liat story orang.

Ngerasa nggak sosmed tuh mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kalau dihitung hitung beberapa tahun lalu, sosmed buat saya itu lebih banyak negatifnya di banding positifnya. Seriuuus.
Tiap perkembangan teknologi pasti punya positif dan negatif. Kembali lagi itu untuk prnggunanya lagi sih

Saya sampai akhirnya mulai lebih "memositifkan" sosmed.
Dulu follow akun gosip, yang lambe lambe karena waktu itu lagi ngehits banget. Sebenarnya follow akun kayak gitu biat update, update sih cuma yang di update kan gosip, hal yang belum tentu kebenarannya. Tambah komentar komentar nitijen, beeeuh. Dosaaa menumpuk.
Kepoin akun gosip kayak gitu tuh nggak ada habisnya, beneran. Pasti penasaran teruus.

Sampai akhirnya unfollow, dan setelah unfollow yang terjadi adalah hidup terasa lebih baik, waktu digunakan jadi lebih bermanfaat. Seperti rada plong aja menjalani hari hari. Seriuuusaan. Buat yang belum cobain deh.

Unfollow akun akun negatif dari sosmed kita, akun teman jugaa kalau dirasa yang diposting keseringan unfaedah, unfollow aja. Toh juga di dunia nyata masih temenan.

Musim politik kayak gini juga saya banyak unfollow akun akun dari sosmed yang terlalu gencar dan aktif banget berkampanye. Kampanye yang lebih suka menjatuhkan lawan dibandingkan menaikkan calon yang didukung, yang lebih share aib lawan dibanding prestasi yang didukung. Bodooo amat itu teman dekat atau apa. Yang kuingin hanya hidup yang tenang.

Jumat, 08 Februari 2019

Depan toko buku

Percayalah, tulisan ini saya buat di depan sebuat toko buku besar di Yogyakarta. Tertarik karena ada promo (ngosongin gudang) buku beli 3 hanya 10 ribu, yass 3 buah buku sebanding dengan harga indomie telur + es tes di burjo burjo yang bertebaran di sudut sudut gang kawasan kampus Jogja. Seperti biasa, kalau ada promo seperti ini pasti untung untungan, kalau yang lagi promo ini sesuai dengan minat bacaan, maka beruntungkah kita, ambil sebanyak banyaknya masalah mau dibaca atau tidak bukan masalah, yang penting punya aja dulu. Oh iya, jadi sebuah kewajiban atau entah sudah membudaya pasti kalau ada promo kayak gini, pasti bentuk displaynya tidak pernah beraturan, selalu acak acakan. Wajar sih, pembelinya selalu gini

Datang -> Pilih pilih -> kalau cocok ambil, nggak cocok buang sembarangan -> pilih pilih (lagi) dan kembali ke awal.

Kalau 1 orang datang, pilih pilih 10 buku dan terambil 3 maka ada 7 buku yang dibuang sembarangan.

Maka silahkan menghitung berapa banyak buku yang terbuang sembarangan jika yang datang 107 orang dalam 3 jam.

Baiklah, Sambil ngeliatin orang milih buku -> baca bentar -> buang, Saya jadi kepikiran "Bagaimanakah perasaan penulis buku jika melihat bukunya di obral seperti ini ?"
Karena saya akui, menulis
itu bukan pekerjaan gampang, saya aja nulis blog ini ancur ancuran, apalagi nulis buku, pasti tak sedikit waktu dan tenaga yang dicurahkan untuk menerbitkan buku tersebut. Hmm

Tapi kalau nggak diskon seperti itu, apa daya orang orang seperti saya yang masih itung itungan dalam membeli buku, apalagi kalau bukunya masih tidak terlalu terkenal.
Maksudnya gini, Saya beberapa kali beli buku yang dari judul, sampul dan sinopsis yang benar benar wow, ditambah ditaruh di etalase depan toko (bukan di pojokan paling bawah) setelah beli (dengan harga normal buku loh, bukan diskon promo obral) dan membaca isinya, ternyata amat sangat mengecewakan, tak sesuai ekpektasi. Sejak itu saya menjadi selektif dalam membeli buku, biasanya nyari review dulu, kalau ada yang bilang bagus baru deh beli, kalau tak menemukan mending nggak beli.

Daaaan, buku promo murah bazar gede diskon sampe mampus kayak gini nih jadi solusinya, kadang suka menemukan buku yang menarik dengan harga gilaaa walapun tak jarang menemukan yang tak sesuai ekspektasi, tapi nggak ngerasa rugi rugi banget.

Kalau diskonan gini satu sisi, kasian sama penulisnya satu sisi lagi seneeeng banget dapat buku murah. Dasar manusia, senang tapi kok ngasiani orang.

Daaan ada yang menarik nih.

Ternyata bazar kayak gini itu bukan serbuan pencari buku murah saja, sepertinya ada pedagang buku yang juga berburu ternyata, tumpukan bukunya udah setinggi setengah meter, nggak cuma 1 tumpuk, ada
2 tumpuk buku dengan beberapa judul yang sama. Sungguh otak bisnih yang luar biasa. Patut dicontoh nih. Memanfaatkan diskon buku untuk stok toko. Nggak kepikiran deh kalau gini. Luar biasaaa.

Kamis, 31 Januari 2019

Nggak tau judulnya apa

Sekarang tanggal 31 Januari 2019. Tepat sebulan setelah hari terakhir sebagai karyawan di Trans7. Sudah sebulan nganggur coy. Karena tempat kerja yang baru nanti baru masuk di bulan Maret, Jadilah diriku laki laki tanpa pekerjaan tetap. Awal awal sih enak, kebetulan abis nikah juga, jadi bulan madunyaa jadi panjang. Nikah awal januari, 3 mingguan di Lombok dan sekarang sudah seminggu ini jadi warga (pendatang) di jogja. Istri (ceilaaah, sekarang bahasanya istri, kadang geli juga) lagi lanjut studi di Jogja dan sudah masuk kampus sehingga kerjaan suaminya ini sekarang adalah antar jemput istri dan gegoleran di kosan sambil main hape sampe batre abis. Ngeblog ini karena nggak ada kerjaan aja. Saking gabutnya nih. Jadi kalau blog ini ramai nggak jelas itu karena ku tak ada kerjaan. Lagi nyari ide nih mau nulis apa dalam sebulan ke depan. Banyak sih ide ide tapi ketika menuangkan dalam bentuk tulisan itu agak agak susah memang. Dalam benak sih pengennya terpola gitu, nggak lompat lompat. Kayak tulisan ini. Lompat sana lompat sini karena apa yang kupirkan langsung kutulis. Macam ngirim WA saja.

Sekian dululah. Selamat siaaang

Selasa, 27 November 2018

Buat yang sering pacaran di sosmed

Katanya jatuh cinta itu ibarat dunia milik berdua, yang lain ngontrak.
Tapi kan yang lain kesel ngeliatnya.
Sadar nggak kalau era sosmed itu era pamer. Pamer lagi dimana, dengan siapa semalam berbuat apa.. Yolanda (oke ini garing).

Masih inget dulu jaman twitter lagi ramai, mention mentionan. Ada yang suka mention pacarnya, "selamat pagi sayang @namapacarnya" dan ini nggak sesekali. Pagi siang sore malam 24 jam dalam sehari 7 hari dalam seminggu isi timeline dia doang yang pacaran berbalas mention nggak penting (buat saya) sampai akhirnya mereka putus. Dulu pernah sih jaman FB, Wall to wall ya namanya, sering juga sampai akhirnya kusadar ternyata itu dibaca oranf lain jugaa. Hmm. Abis itu yaudah jadi juuuuuuaraaaang banget post tentang hubungan pribadi di sosmed. Oh iya itu jaman SMA yaa. Masih masih agak ababil gitulah.

Tapi tapi tapi kok masih ada sih jaman sekarang yang kayak gitu. Postingan apa apa selalu sama pasangan. Foto di IG kebanyakan berdua, instastory berdua muluu. Terus seiring berdajalannya waktu, kadang kadang tersadar, kok fotonya sekarang sendiri, liat akunnya foto pasanganya udah habis tak bersisa.  Ilang ditelan IG. Terus orak jahat berkesimpulan, kalau nggak berantem ya udah putus.

Jadi berhati hatilah dalam posting, posting secukupnya aja. Jangan berlebihan. Karena yang berlebihan itu tidak baik.

Selamat makan siang ditanggal tua dari kantor tendean

Selasa, 30 Oktober 2018

Cara Menghilangkan File Excel Muncul [Group]

Buat saya yang bekerja dengan Angka psti tak bisa terpisahkan dari yang namanya Ms Excel. Yaps Excel sangat membantu pekerjaan kita yang berhubungan dengan data dan angka.

Sebagai sebuah program buatan manusia, tentunya tak ada yang sempurna. Karena hanya Tuhan yang sempurna. jadi berikut terdapat sekelumit kisah tentang Excel

jaddi pas lagi buka file Excel tahun lalu, dimana file tersebut mau ada data yang diambil. Ternyata eh ternyata muncul sebuah problem. File tersebut tak bisa edit. Seteleh di cek ternyata ada yang aneh dengan file tersebut

Berikut penampakan filenya

Bisa diperhatikan nama filenya, ada tambahan [Group] di nama filenya. dan seperti yang sudah saya bilang diatas, ketika akan melakukan proses pada data tersebut, ada masalah sehingga muncul kotak seperti ini 
Okee, sampai sini mulai panik nih, ternyata ternyata caranya ini mudah sekali teman teman.
Langsung saja yaa


Caranya adalah tinggal buka sheet baru, iyaa buka sheet baru atau klik saja (Shift+F11)

Setelah itu perhatikan lagi nama filenya, eng ing enggg
[Group]nya hilang dan untuk membuktikannya silakan lakukan proses terhadap data teman teman.

Sekian yaa. Semoga bermanfaat
Terima kasih
Salam dari Tendean