Minggu, 04 Agustus 2013

Pulang Kampung

Mudik atau pulang kampung, ini adalah salah satu tradisi yang dimulai entah kapan,dari zaman dahulu kala mungkin. Mudik biasanya dilaksanakan sebelum hari raya idul fitri yang oleh orang indonesia lebih dikenal dengan nama lebaran. Sebenarnya saya ndak suka penggunaan kata mudik atau pulang kampung.Mudik kata dasarnya udik, pulang kampung juga gitu, pulang ke kampung. Padahal nggak semua orang itu orang udik ataupun orang yang rumahnya di kampung. Tapi itulah bahasa Indonesia, susah dimengerti sehingga wajar saja kalau (sepengetahuan saya) belum pernah dengar ada yang dapat nilai seratus di Ujian Nasional Bahasa Indonesia. Di tulisan ini saya nggak akan berbicara jalur mudik pantura yang tiap mendekati lebaran sselalu dibenerin, ini pasti proyek abadi sepanjang masa yang sebagian besar di korupsi para anjing berdasi. Kita juga nggak akan membicarakan kenapa berita langsung tentang mudik di tiap stasiun televisi mengambil tempat di jalur Nagrek. kita bicarakan disini adalah mudik saya dari Malang ke Lombok, ya Malang ke Lombok. Sudah setahun di Malang wajarlah kangen tanah kelahiran, tanah asli nenek moyang. Pulang kemarin naik pesawat, tepatnya naik maskapai singa udara. Sebenarnya pengen naik bis biar mudiknya lebih terasa, tapi liat harga tiket bis dan pesawat nggak jauh beda ya jadilah naik itu si singa udara.
Penerbangan selasa 30 Juli. Di tiket sih jadwal keberangkatan jam 17.30 waktu juanda. Karena track record si singa udara yang oleh sebagian besar orang adalah maskapai yang sering delay dan memang kenyataannya seperti itu jadilah ndak terlalu berharap bakalan take off pada waktu seperti yang tertera di tiket. Selesai Check In langsung Boarding Sekitar jam 5 sore. Masuk ruang tunggu disambut mas-mas petugas yang membagikan takjil dari Angkasa pura, Alhamdulillah 5 butir kurma, air mineral dan roti. Masuk ruang tunggu seperti biasa, setelah melalui pemeriksaan duduk dengan tenang, noleh kiri kanan berharap ketemu teman atau orang yang dikenal seperti sebelum-sebelumnya, taunya nggak ada sama sekali. Oke duduk manis lagi sambil memanfaatkan wifi bandara melihat aktifitas di jejaring sosial. Sedang asik mantengin timeline, mulai terdengar orang berbicara dengan bahasa yang tidak asing lagi, bahasa Sasak bro. Ini masih di Juanda tapi aroma dan suasana Lombok sudah terasa. nggak 2 atau 3 orang yang berbahasa sasak,tapi banyak orang. Lombok sudah dekat ternyata. Kalau flashback, 5 menit sebelumnya di luar bandara dengar orang berbahasa jawa dengan aksen surabaya yang fasih, sekarang sudah berbeda, sasak berjaya di ruang tunggu ini. Beberapa juga berbahasa Indonesia dengan logat lombok dan sumbawa.

Manusia memang lebih sering bersikap dan berfikir min (maksudnya negatif).Si maskapai Siaga Udara hari itu ndak telat, ya on time. Tepat jam 17.30 penumpang sudah digiring masuk pesawat. Setelah semua sudah siap,seperti biasa pramugari yang cantik-cantik di bawah balutan bedak tebal (ndak tau kalau nggak pakai bedak) memeragakan apa yang harus dilakukan bila keadaan darurat sembari mengingatkan untuk mematikan handphone. Tapi ya namanya orang Indonesia, masih aja ada yang enggan mematikan handphone, sok penting banget tau, matiin HP cuman sejam doang males banget. Nggak apa bakalan di putusin pacar kalau matiin HP, jangan apa gawah-gawah jadi orang ( ini EYD sasak), kalau di suruh matiin itu berarti berbahaya. jangan karena kegawahan satu dua penumpang mengancam nyawa beratus-ratus orang. Perjalanannya biasa, yang saya suka dari perjalanan malam adalah keindahan lampu kota dan jalanan dari ketinggian, baik sesaat setelah take off ataupun sebelum landing. Setelah landing, pesawat belum berhenti benar suara-suara handphone yang baru dinyalakan sudah saling bersahut-sahutan, Orang Indonesia, padahal sudah di himbau kalau handphone boleh diaktifkan di dalam bandara.




Akhirnya, sampai juga di Lombok, tanah kelahiran. Setelah mengurus bagasi langsung keluar bandara, karena ndak ada yang jemput akhirnya nyari mas-mas penjual tiket damri. Di luar bandara MasyaAllah rame benget. kayaknya cuma saya aja nih yang ndak minta jemput, rame benget penjempunya. Langsung naik Damri karena takut (dan males) di tanya-tanyain tukang travel. Sembari menunggu Damrinya penuh, terlihat di parkiran, pedagang asongan ada dimana-mana. Bandara Internasional tapi masih ada pedagang asongan. inilah ciri khasnya Lombok. kultur budaya masyarakatnya sangat kuat.
Mungkin kalau pedagang di tata dengan baik oleh yang berwenang, Lombok bisa jauh lebih maju lagi.


Sekarang lagi sibuk-sibuknya menikmati liburan di tanah tercinta, tapi sayang di Lombok udah ndak seperti dulu lagi. Sekarang udah banyak minimarket Indo##ret dab Al##mart. Padahal Minimarket seperti itu tidak ada daya tarik wisatanya,di mana-mana ada. Toko kelontong dan kios kecil jauh lebih menjual secara pariwisata di bandingkan minimarket yang sudah biasa itu.

Sekian dulu,mau lihat pantai nih.
haha
ayo visit Lombok.

NB : gawah itu artinya kampungan (bahasa sasak)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar