Mudik atau pulang kampung, ini adalah salah
satu tradisi yang dimulai entah kapan,dari zaman dahulu kala mungkin. Mudik
biasanya dilaksanakan sebelum hari raya idul fitri yang oleh orang indonesia
lebih dikenal dengan nama lebaran. Sebenarnya saya ndak suka penggunaan kata
mudik atau pulang kampung.Mudik kata dasarnya udik, pulang kampung juga
gitu, pulang ke kampung. Padahal nggak semua orang itu orang udik ataupun orang
yang rumahnya di kampung. Tapi itulah bahasa Indonesia, susah dimengerti sehingga
wajar saja kalau (sepengetahuan saya) belum pernah dengar ada yang dapat nilai seratus di Ujian Nasional Bahasa
Indonesia. Di tulisan ini saya nggak akan berbicara jalur mudik pantura yang
tiap mendekati lebaran sselalu dibenerin, ini pasti proyek abadi sepanjang masa yang
sebagian besar di korupsi para anjing berdasi. Kita juga nggak akan membicarakan
kenapa berita langsung tentang mudik di tiap stasiun televisi mengambil tempat
di jalur Nagrek. kita bicarakan disini adalah mudik saya dari Malang ke
Lombok, ya Malang ke Lombok. Sudah setahun di Malang wajarlah kangen tanah
kelahiran, tanah asli nenek moyang. Pulang kemarin naik pesawat, tepatnya naik
maskapai singa udara. Sebenarnya
pengen naik bis biar mudiknya lebih terasa, tapi liat harga tiket bis dan
pesawat nggak jauh beda ya jadilah naik itu si singa udara.
Penerbangan selasa 30 Juli. Di tiket sih
jadwal keberangkatan jam 17.30 waktu juanda. Karena track record si singa udara yang
oleh sebagian besar orang adalah maskapai yang sering delay dan memang kenyataannya seperti itu jadilah ndak terlalu
berharap bakalan take off pada waktu
seperti yang tertera di tiket. Selesai Check
In langsung Boarding Sekitar jam
5 sore. Masuk ruang tunggu disambut mas-mas petugas yang membagikan takjil dari
Angkasa pura, Alhamdulillah 5 butir
kurma, air mineral dan roti. Masuk ruang tunggu seperti biasa, setelah melalui
pemeriksaan duduk dengan tenang, noleh kiri kanan berharap ketemu teman atau
orang yang dikenal seperti sebelum-sebelumnya, taunya nggak ada sama sekali. Oke
duduk manis lagi sambil memanfaatkan wifi
bandara melihat aktifitas di jejaring sosial. Sedang asik mantengin timeline, mulai
terdengar orang berbicara dengan bahasa yang tidak asing lagi, bahasa Sasak
bro. Ini masih di Juanda tapi aroma dan suasana Lombok sudah terasa. nggak 2 atau
3 orang yang berbahasa sasak,tapi banyak orang. Lombok sudah dekat ternyata. Kalau flashback, 5 menit sebelumnya di luar bandara dengar orang berbahasa
jawa dengan aksen surabaya yang fasih, sekarang sudah berbeda, sasak berjaya di
ruang tunggu ini. Beberapa juga berbahasa Indonesia dengan logat lombok dan
sumbawa.
Manusia memang lebih sering bersikap dan
berfikir min (maksudnya negatif).Si maskapai Siaga Udara hari itu ndak telat, ya on time. Tepat jam 17.30 penumpang sudah digiring masuk
pesawat. Setelah semua sudah siap,seperti biasa pramugari yang cantik-cantik di
bawah balutan bedak tebal (ndak tau kalau nggak pakai bedak) memeragakan apa
yang harus dilakukan bila keadaan darurat sembari mengingatkan untuk mematikan handphone. Tapi ya namanya orang
Indonesia, masih aja ada yang enggan mematikan handphone, sok penting banget tau, matiin HP cuman sejam doang males
banget. Nggak apa bakalan di putusin pacar kalau matiin HP, jangan apa gawah-gawah jadi orang ( ini EYD sasak), kalau di suruh
matiin itu berarti berbahaya. jangan karena kegawahan satu dua penumpang mengancam nyawa beratus-ratus
orang. Perjalanannya biasa, yang saya suka dari perjalanan malam adalah keindahan
lampu kota dan jalanan dari ketinggian, baik sesaat setelah take off ataupun sebelum landing. Setelah
landing, pesawat belum berhenti benar
suara-suara handphone yang baru dinyalakan
sudah saling bersahut-sahutan, Orang Indonesia, padahal sudah di himbau kalau handphone boleh diaktifkan di dalam
bandara.
Akhirnya, sampai juga di Lombok, tanah kelahiran. Setelah
mengurus bagasi langsung keluar bandara, karena ndak ada yang jemput akhirnya nyari
mas-mas penjual tiket damri. Di luar bandara MasyaAllah
rame benget. kayaknya cuma saya aja nih yang ndak minta jemput, rame benget
penjempunya. Langsung naik Damri karena takut (dan males) di tanya-tanyain
tukang travel. Sembari menunggu
Damrinya penuh, terlihat di parkiran, pedagang asongan ada dimana-mana. Bandara
Internasional tapi masih ada pedagang asongan. inilah ciri khasnya Lombok. kultur
budaya masyarakatnya sangat kuat.
Mungkin kalau pedagang di tata dengan baik oleh yang berwenang, Lombok bisa jauh
lebih maju lagi.
Sekarang lagi sibuk-sibuknya menikmati
liburan di tanah tercinta, tapi sayang di Lombok udah ndak seperti dulu
lagi. Sekarang udah banyak minimarket Indo##ret dab Al##mart. Padahal Minimarket
seperti itu tidak ada daya tarik wisatanya,di mana-mana ada. Toko kelontong dan
kios kecil jauh lebih menjual secara pariwisata di bandingkan minimarket yang
sudah biasa itu.
Sekian dulu,mau lihat pantai nih.
haha
ayo visit Lombok.
NB : gawah itu artinya kampungan (bahasa sasak)
Sumber Gambar : http://chatra.wordpress.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar