Rabu, 03 Oktober 2018

Ku mulai benci sosmed

Dulu jaman friendster semua adem ayem. Tema dan grafis bagus doang yang bisa bikin iri, udah gitu doang. Terus muncul facebook, saling komen di status orang atau komen menggangu di "wall to wall" orang lain jadi hal yang lumrah terjadi, karena masih SMA dan awal kuliah isisnya galau galauan ABG atau tentang tugas, tak ada yang serius. Twitter hadir lebih simple, mencuit dan membalas cuit. Adu kesombongan lewat "Twitter for Blackberry" jadi hal yang lumrah. My Space, Tumblr dan lain lain cuma numpang lewat doang.

Semua berubah sejak tahun 2014. Sosmed yang dulu adem mulai agak rusuh. Facebook dan Twitter jadi tempat ujaran kebencian dan pembohongan (Hoax belum dikenal saat itu). Antar teman sudah tak seperti teman jika berbeda pilihan. Entah dulu berapa teman yang ku blokir atau unfriend di facebook karena terlalu getol dan kasar dalam menjatuhkan calon yang bukan pilihannya. Pilpres 2014 hilang tapi facebook dan twitter masih kelabu. Orang mulai berpindah ke Instagram dan Path. Path kutinggalkan karena isinya kesombongan. Instagram jadi primadona. Sekarang tahun 2018, Sisa sia pilpres 2014 bukan habis malah tumbuh berkembang di sosmed. Instagram sekarang jadi tempat adu argumen. Ku kembali ke Twitter ternyata masih sama. Facebook juga makin menjadi. Antar teman sudah saling menjatuhkan. Persetan dengan untuk pilpres kita beda pilihan tapi di lapangan futsal kita berteman kalau cara berbeda di sosmed adalah dengan mempermalukan, bully, menjatuhkan dengan tulisan tulisan kasar. Namanya sosmed semua orang yang membaca bisa mengartikan dengan pemikirannya masing masing. Percumalah kalau bilang kita berteman tapi teman kau jatuhkan harga dirinya hanya karena perbedaan pilihan. Pada akhirnya kuakan benci sosmed kalau cuma membuat ada yang di bully, ada yang tersakiti dan ada dendam.

Tendean Oktober 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar