Jumat, 23 Mei 2014

diskusi malam itu

Tulisan kali ini agak sensitif, topik yang saya tulis kali ini memang agak tabu dan melalui tulisan ini saya hanya ingin berbagi saja, sekali lagi tulisan ini hanya opini dari saya pribadi.

Beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja saya bertemu seorang teman, hampir beberapa bulan kita tidak bertemu, kita sebut saja dia A. Ketika kita bertemu, dia bersama dengan temannya yang bernama X. Banyak hal yang kita bicarakan pada pertemuan tak terencana tersebut, mulai dari organisasi yang mendapat pengaruh dari OMEK, sampai memberikan penilaian pada beberapa pasang pasangan di tempat ini, semua masih berjalan normal. Si X mulai membicarakan hal-hal pribadi, tentang bagaimana dia pernah suka pada mantan si A dan bagaimana dia dijauhi temannya karena dianggap terlalu dekat dengan pacar temannya tersebut.

Pada satu pembicaraan, Si X meminta untuk diperkenalkan dengan teman cewek si A. Si A sambil bercanda menanyakan kriteria cewek yang seperti apa yang diinginkan si X, dan tawa kami bertigapun pecah. Selanjutnya dengan muka serius si A bertanya dengan penuh kesopanan " X, saya mau bertanya, tapi kamu jangan marah ataupun tersinggung. saya hanya mau tau.. " belum selesai pertanyaan dari si A, X langsung memotong pertanyaan dan menjawab, " Saya tau pertanyaanmu, yes, i'm gay. saya ini biseks". Oke, saya agak terhenyak dengan pernyataan tersebut, sempat loading beberapa detik sebelum akhirnya saya bisa mengausai keadaan diri saya agar si X tidak tersinggung. Oke, pengalaman saya di UKM memang beberapa kali saya berinteraksi langsung dengan waria, gay atau lesbi tetapi suasananya jelas berbeda, kalau biasanya dalam suasana formal dan terencana, tapi kali ini saya sama sekali tidak ada persiapan mental. 

Perbincangan kami berlanjut, kali ini saya hanya sebagai pendengar. Saya takut salah dalam berbicara. Si A mulai bertanya tentang orientasi seksual si X yang menurut orang kebanyakan itu menyimpang, tetapi si X menyatakan tidak ada yng salah dengan orientasi seksualnya, bagi dia itu adalah normal. orientasi seksualnya itu adalah wajar. Si A kembali meberikan pernyataan tentang kodrat manusia dari tuhan itu ada 2, manjadi lak-laki atau perempuan dan menukil kisah kaum Nabi Luth. Jawaban dari si X pun mengakhiri tukar pendapat malam itu, dia menjawab " kalau kita membicarakan masalah ini dengan membawa Agama, maka sampai kapanpun tidak ada menemukan titik terang, karena mamang semua Agama tidak ada yang memperbolehkan hubungan sesama jenis, jadi percuma saja kita berdiskusi".
Saya jadi teringat dalam kumpulan film "Indonesia tanpa diskriminasi" dari Denny JA dimana salah satu judulnya mengangkat tentang kisah sepasang gay. 

Kita hidup di dunia ini tidak sendiri, kita hidup berdampingan dengan orang lain dari berbagai jenis watak. Sudah menjadi salah satu tugas kita sebagai makhluk beragama untuk sekedar mengingatkan pada saudara kita untuk kembali ke JalanNYA. Terkadang kita berada di persimpangan, antara toleransi dan nilai-nilai keagamaan yang kita yakini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar