Kamis, 24 Oktober 2013

Ngamen


Ngeblog lagi setelah lama tak menjamah tuts-tuts keyboard laptop ini.
Kebebasan ngeblog sudah dirampas oleh soal-soal UTS yang sangat menguras waktu (buat belajar dan bikin kerepekan). Belajar disini bukan maksud membaca dan memahami tapi memaksa tuk memahami materi-materi dosen yang luar biasa hebatnya, apalagi yang namanya mata kuliah peramalan, ndak ada catetan ditambah handoutnya berbahasa asing {lengkap sudah penderitaan}.
kerepakan diatas bukan berarti nulis kecil-kecil di kertas buat di bawa waktu ujian atau fotocopy slide yang diperkecil sampai kecil banget, bukan begitu. Sama sekali bukan begitu, itu mah gayanya anak SMA banget. Kerepekan disini halal, serius halal. Sudah diuji sama MUI, ya kerepekan atau kerennya resume emang di perbolehkan sama dosen mengingat mata kuliahnya yang penuh dengan rumus bertabur bintang jadi ya dihalalkanlah repekan tersebut, tetapi sayangnya Cuma 1 mata kuliah doang yang yang makai aturan itu, coba semua. Betapa indahnya UTS ini..
Setelah 10 hari berkutat dengan soal-soal pilihan tiba saatnya  meraih kemerdekaan, teman-teman kelas pada liburan ke pulau sempu tapi entah kenapa tidak terlalu tertarik dan sebagian sisanya memilih pulang kampung. Dari pada 3 hari berakhir sia-sia maka ngebolang jadi piihan dan tujuannya adalah jogjah, Jogjah aku datang..
Awalnya sih pengen naek sepeda motor tapi mengingat si supra belum di servis maka jadilah berangkat ngebis. Start dari terminal Landungsari dengan tujuan jombang, rencananya pengen mandiri eh malah di bis ketemu sama Hanin, Tiara dan Dian. Ketemu mereka ini mah rasanya kayak kuliah. Hampir 3 jam bis puspa indah penuh penumpang dan penuh sesak meliuk-liuk melewati lika-liku jalur malang-jombang. Sampai jombang ganti bis. Hanin dan Tiara ke ponorogo, Dian turun terminal jombang dan aku ke jogja. Karena buta bus jurusan  jogja akhirnya naiklah bus EKA dan ternyata ini bus ekskutif, what the <sensored>. Bukan karna nggak kuat bayar, bukan karena itu. Tetapi perjalanan terasa membosankan, cuma duduk diatas kursi empuk dibawah guyuran ac dan itu sangat membosankan. Ditengah kondisi seperti itu tidur adalah pilihan terbaik ditambah suara Ebiet G Ade yang mendayu-dayu di speaker bis. Sampai Jogja jam 11 malam setelah sebelumnya transit makan di ngawi.
3 hari di Jogja ya seperti liburan biasa, ke tempat wisata sama teman lama dan hari minggu kembali ke kota malang. Dari jogja jam 10an naik bis ekonomi tujuan solo dengan ongkos 10 ribu. Ini bis benar-benar bis ekonomi, tanpa kipas apalagi AC dan tak lebih dari sauna berjalan. Satu jam perjalanan mungkin ada sekitar  5 musisi jalanan yang silih berganti memetik gitar atau menabuh gendang sembari berdendang. Turun 1 naik 1 lagi, begitu terus sampai terminal solo langsung nyambung bis tujuan surabaya, kali ini lebih nikmat, naik bis ekonomi tapi berAC. petikan gitar pengamen mendendangkan lagu musisi legendaris Gesang membawa bis keluar dari terminal Tirtonadi solo. Lagu keroncong yang dibawakan sedikit pop membawa ketenangan ditengah panasnya kota solo yang tak mampu ditahan AC bus ini. Sepanjang perjalanan solo sampai surabaya entah sudah berapa pengamen yang bergantian naik turun bis untuk menjual suara dan genjrengan gitarnya. Naik Bis ekonomi seperti itu tak ubahnya seperti mendengarkan radio. 6 jam perjalanan disuguhi musik dan lagu dari berbagai macam aliran mulai dangdut koplo yang lagi ngetrend sampai lagu-lagu underground yang dibawakan pengamen berdandan anak punk.
Sekarang mengamen sudah menjadi suatu pekerjaan yang banyak di gandrungi orang, dimanapun tempatnya pengamen selalu ada, jenis-jenis pengamen juga banyak mulai dari yang bernyanyi solo sampai pengamen yang lebih mirip anak band dengan peralatan lengkap. Kadang sering kesal dengan pengamen yang tak tau waktu. Waktu jam istirahat mereka datang ngejreng gitar sambil benyanyi, kalau tidak diberikan uang mereka kadang tidak bakal pergi, jadinya mau ndak mau ya yang waras ngalah.
Lain pengamen bis lain lagi pengamen rumahan. Pengamen rumahan ini jauh lebih ngeselin dibandingkan pengamen bis. Kebanyakan mereka tidak mengenal waktu mengamen. Banyak cara agar pengamen tidak datang ke rumah, salah satunya adalah dengan menempel tulisan besar dan mencolok di depan rumah “NGAMEN GRATIS” atau yang lebis kreatif seperti yang dilakukan anak kontrakan tetangga yang menempelkan tulisan “NGAMEN HARUS LAGU KOREA, SELAIN ITU GRATIS”.walau terkadang ada saja pengamen yang tak tahu diri, jelas-jelas ada tulisan tetap saja asyik memainkan gitarnya. Pengamen seperti ini adaah pengamen yang Kepedean dan percaya diri kalau suaranya bagus atau pengamen yang memang buta huruf.
Pernah juga menemukan pengamen waktu lagi ngopi, Pengamen dengan badan besar, pakai kemeja berbahan jeans, celana pendek jeans dan berpantofel, cukup kerenlah untuk ukuran seorang pengamen. Memainkan gitarnya sambil bernyanyi lagu melow dari meja ke meja sampai semua meja disinggahi. Selepas meja terakhir dan sudah banyak rupiah yang dikumpulkan dia duduk di salah satu meja dimana disana ada 2 orang temannya, ternyata dia juga pengunjung warung kopi yang nyambi jadi pengamen. Lumayan juga bisa ngopi gratis bahkan untung. 
Mengamen bukan kejahatan asalkan tidak memaksa orang untuk mengeluarkan rupiahnya. Mengamenlah dengan santun, jika orang tidak terganggu dan senang maka ia akan tulus ikhlas memberi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar