Ngeblog lagi setelah lama tak menjamah tuts-tuts
keyboard laptop ini.
Kebebasan ngeblog sudah dirampas oleh soal-soal UTS yang sangat menguras waktu
(buat belajar dan bikin kerepekan). Belajar disini bukan maksud membaca dan
memahami tapi memaksa tuk memahami materi-materi dosen yang luar biasa
hebatnya, apalagi yang namanya mata kuliah peramalan, ndak ada catetan ditambah
handoutnya berbahasa asing {lengkap sudah penderitaan}.
kerepakan diatas bukan berarti nulis kecil-kecil di kertas buat di bawa waktu
ujian atau fotocopy slide yang diperkecil sampai kecil banget, bukan begitu. Sama
sekali bukan begitu, itu mah gayanya anak SMA banget. Kerepekan disini
halal, serius halal. Sudah diuji sama MUI, ya kerepekan atau kerennya resume emang di perbolehkan sama dosen mengingat
mata kuliahnya yang penuh dengan rumus bertabur bintang jadi ya
dihalalkanlah repekan tersebut, tetapi sayangnya Cuma 1 mata kuliah doang yang yang makai
aturan itu, coba semua. Betapa indahnya UTS ini..
Setelah 10 hari berkutat dengan soal-soal pilihan tiba
saatnya meraih kemerdekaan, teman-teman
kelas pada liburan ke pulau sempu tapi entah kenapa tidak terlalu tertarik dan
sebagian sisanya memilih pulang kampung. Dari pada 3 hari berakhir sia-sia maka
ngebolang jadi piihan dan tujuannya adalah jogjah, Jogjah aku datang..
Awalnya sih pengen naek sepeda motor tapi mengingat si
supra belum di servis maka jadilah berangkat ngebis. Start dari terminal Landungsari dengan tujuan jombang, rencananya pengen mandiri eh malah di bis
ketemu sama Hanin, Tiara dan Dian. Ketemu mereka ini mah rasanya
kayak kuliah. Hampir 3 jam bis puspa
indah penuh penumpang dan penuh sesak meliuk-liuk melewati lika-liku jalur malang-jombang. Sampai jombang ganti bis. Hanin dan Tiara ke ponorogo, Dian turun
terminal jombang dan aku ke jogja. Karena buta bus jurusan jogja akhirnya naiklah bus EKA dan ternyata ini
bus ekskutif, what the <sensored>. Bukan karna nggak kuat bayar, bukan
karena itu. Tetapi perjalanan terasa membosankan, cuma duduk diatas kursi empuk
dibawah guyuran ac dan itu sangat membosankan. Ditengah kondisi seperti itu
tidur adalah pilihan terbaik ditambah suara Ebiet G Ade yang mendayu-dayu di
speaker bis. Sampai Jogja jam 11 malam setelah sebelumnya transit makan di
ngawi.
3 hari di Jogja ya seperti liburan biasa, ke tempat
wisata sama teman lama dan hari minggu kembali ke kota malang. Dari jogja jam
10an naik bis ekonomi tujuan solo dengan ongkos 10 ribu. Ini bis benar-benar bis
ekonomi, tanpa kipas apalagi AC dan tak lebih dari sauna berjalan. Satu jam perjalanan mungkin ada sekitar 5
musisi jalanan yang silih berganti memetik gitar atau menabuh gendang sembari
berdendang. Turun 1 naik 1 lagi, begitu terus sampai terminal solo langsung nyambung bis
tujuan surabaya, kali ini lebih nikmat, naik bis ekonomi tapi berAC. petikan
gitar pengamen mendendangkan lagu musisi legendaris Gesang membawa bis keluar
dari terminal Tirtonadi solo. Lagu keroncong yang dibawakan sedikit pop membawa
ketenangan ditengah panasnya kota solo yang tak mampu ditahan AC bus
ini. Sepanjang perjalanan solo sampai surabaya entah sudah berapa pengamen yang bergantian
naik turun bis untuk menjual suara dan genjrengan gitarnya. Naik Bis ekonomi
seperti itu tak ubahnya seperti mendengarkan radio. 6 jam perjalanan disuguhi
musik dan lagu dari berbagai macam aliran mulai dangdut koplo yang lagi
ngetrend sampai lagu-lagu underground yang dibawakan pengamen berdandan anak
punk.
Sekarang mengamen sudah menjadi suatu pekerjaan yang
banyak di gandrungi orang, dimanapun tempatnya pengamen selalu ada, jenis-jenis
pengamen juga banyak mulai dari yang bernyanyi solo sampai pengamen yang lebih
mirip anak band dengan peralatan lengkap. Kadang sering kesal dengan pengamen
yang tak tau waktu. Waktu jam istirahat mereka datang ngejreng gitar sambil
benyanyi, kalau tidak diberikan uang mereka kadang tidak bakal pergi, jadinya mau
ndak mau ya yang waras ngalah.
Lain pengamen bis lain lagi pengamen rumahan. Pengamen rumahan ini jauh lebih ngeselin dibandingkan pengamen bis. Kebanyakan mereka tidak mengenal waktu mengamen. Banyak cara agar pengamen tidak datang ke rumah, salah
satunya adalah dengan menempel tulisan besar dan mencolok di depan rumah “NGAMEN
GRATIS” atau yang lebis kreatif seperti yang dilakukan anak kontrakan tetangga
yang menempelkan tulisan “NGAMEN HARUS LAGU KOREA, SELAIN ITU GRATIS”.walau
terkadang ada saja pengamen yang tak tahu diri, jelas-jelas ada tulisan tetap
saja asyik memainkan gitarnya. Pengamen seperti ini adaah pengamen yang Kepedean dan percaya diri kalau suaranya bagus atau pengamen yang memang buta
huruf.
Pernah juga menemukan pengamen waktu lagi
ngopi, Pengamen dengan badan besar, pakai kemeja berbahan jeans, celana pendek
jeans dan berpantofel, cukup kerenlah untuk ukuran seorang pengamen. Memainkan
gitarnya sambil bernyanyi lagu melow dari meja ke meja sampai semua meja
disinggahi. Selepas meja terakhir dan sudah banyak rupiah yang dikumpulkan dia
duduk di salah satu meja dimana disana ada 2 orang temannya, ternyata dia juga
pengunjung warung kopi yang nyambi jadi pengamen. Lumayan juga bisa ngopi gratis bahkan
untung.
Mengamen bukan kejahatan asalkan tidak memaksa orang untuk mengeluarkan rupiahnya. Mengamenlah dengan santun, jika orang tidak terganggu dan senang maka ia akan tulus ikhlas memberi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar